Kamis, 29 September 2011

Aku Tidak Sakit Hati (2)


         Ayah telah pergi selamanya meninggalkan aku dan ibuku.  Rasa pilu ditinggal ayah masih teramat sakit kurasakan. Dan didalam peti ini ayah menjadi saksi pernikahanku dan Satria. Tak terpikirkan bagaimana remuk hati Eno waktu mengetahui hari kematian ayahku menjadi hari pernikahanku tapi tidak dengannya. Acara akad nikah diadakan secara sederhana, dan penuh keharuan. Sebelum acara akad dimulai aku beranikan diri menghubungi Eno.
“ No, aku tahu kamu nggak bisa menerima semua ini, sakit yang kamu rasakan seperti itu pula yang kurasakan. No, semua ini kubaktikan untuk ayahku, kamu pasti paham kan ?. Aku berjanji No, cinta kita akan selalu menjadi cerita indah di hati ini dan aku berharap suatu saat cinta kita akan bersatu jika diijinkanNya” tetes air mata mengakhiri kalimatku.
Dari ujung telpon ku dengar Eno menanggis dan terbata – bata  berusaha berkata padaku “ Ra, aku tahu dan paham posisimu saat ini. Semua anak pasti ingin berbakti pada orang tuanya, jika ini cara berbaktimu maka lakukanlah. Aku tak akan menghalanginya, dan kutitipkan cinta kita pada Sang Pemberi Cinta. Suatu saat ku berharap cinta itu akan diberikan pada kita. Janganlah kamu menanggis lagi, memang berat Ra? tapi aku harus ikhlas. Aku harap kamu tidak akan menjauhiku, aku tetap ada untukmu. Temui calon suami mu dan maaf aku tidak bisa menyaksikan akad mu, karena hanya akan menyakitkan kita berdua”.
            Klik suara telpon di tutup, dan Eno berlalu dengan kepergian suaranya. Setelah menghapus air mata, aku berjalan menuju tempat yang telah dipersiapkan untuk mengucapkan akad nikah di samping peti ayahku.
“ Nduk, kamu pasti bisa melalui semua ini... semua akan baik – baik saja” ibu berusaha menguatkan hatiku.
            Acara akan nikah pun telah selesai di gelar, semua tamu terharu menyaksikan akad nikah kami. “ Ayah, aku sudah jadi isteri Satria,  semoga ayah bahagia menyaksikan ini” .
Ku seka air mata dan mulai menerima ucapan selamat dari para kerabat. Dalam hatiku masih belum bisa menerima kenyataan ini, aku masih mencintai Eno. Setelah acara akad ini selesai, jenazah ayah langsung di bawa ke pemakaman keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh. “ Selamat jalan ayah.... kami akan selalu merindukanmu”
            1,2,...... 10 bulan kemudian........
Seiring waktu, perjalanan rumah tanggaku terlihat seperti rumah tangga lainnya, akan tetapi semua itu hanya kamuflase kami. Di depan keluarga kami bisa berlaku mesra akan tetapi tidak dibelakang mereka. Memang kami tidak bertengkar selayaknya pertengkaran keluarga, tetapi kami hanya diam jika berhadapan berdua tanpa sapa bahkan menyentuh pun tidak. Aku telah berusaha menghilangkan Eno dari hatiku, dan mencoba mulai menerima keberadaan Satria. Tetapi semua itu kurasakan sia – sia saja. Bukan cinta yang tumbuh di hatiku melainkan rasa benci pada satria. Aku bingung, galau merasakan semua ini.
Rumah tanggaku seperti penjara bagiku, bukan aku tidak bisa mengembangkan karir, tetapi hanya kebisuan yang ku peroleh di rumah ini. Untuk menghilangkan rasa itu aku sibuk dengan pekerjaanku dan Satria terlalu terbuai dengan pekerjaannya. Bahkan sampai saat ini aku masih suci, tanpa pernah Satria berusaha menyentuhku meskipun aku telah membayangkan apa yang akan terjadi setelah acara akad nikah, tapi semua itu hanya ketakutanku. Dan aku tak mengerti semua alasannya, pernah ku tanyakan alasan Satria tapi dia hanya menjawab dengan tenang.
“ Sat, bukankah kita telah menikah lama. Tapi kenapa sampai hari ini kamu tetap menjaga kesucianku?” tanyaku pada Satria.
“ Suatu saat kamu akan tahu ko Ra?” Sudahlah nggak usah kamu pusingkan, satria melanjutkan pekerjaannya.
Semenjak itu aku tidak pernah menanyakan lagi pada Satria, meskipun sampai detik ini aku tidak mengetahui alasannya. Hingga pada suatu ketika tak sengaja aku berpapasan  dengan Eno di sebuah rumah makan. Cintaku pada Eno seperti rumput kering yang kembali  hijau karena guyuran air hujan.
Ya Allah apakah cinta yang mulai tumbuh lagi ini tak salah?................
Bersambung........

Jogja, 260911

0 komentar:

Posting Komentar

Menurut Kamu