Kamis, 29 September 2011

Aku Tidak Sakit Hati (Tamat)


         Ketidak sengajaanku bertemu Eno, menjadikan hubungan kami lebih dekat kembali. Semua masalah keluarga aku ceritakan pada Eno. Seperti menemukan sandaran hati Eno memahami semua persoalanku. Semenjak itu wajahku yang tadinya murung kembali ceria. Di rumah aku bersikap seperti biasanya pada Satria, hingga suatu saat Satria bertanya padaku.
“ Ra, aku perhatikan sudah satu minggu ini setiap pulang kerja wajahmu selalu berseri – seri ? kamu menang tander lagi?” dengan terbatuk – batuk Satria memulai pembicaraan diantara kita.
“ nggak, biasa aja Sat..... Cuma kamu aja yang kurang perhatian sama aku, bukankah setiap hari aku seperti ini” kujawab sekenaku, aku nggak mau Satria mengetahui kalau di belakang dia aku bertemu dengan Eno kekasih yang kutinggalkan.
“ O ya.... pa kabar Eno sekarang?” tanya satria.
            Hampir tak percaya tiba – tiba Satria menanyakan keberadaan Eno. Sepertinya Satria mengetahui kalau aku bertemu Eno lagi. Bukankah selama ini dia cuek dengan pergaulanku di luar, sebegitukah perhatian Satria?
“ Ko’ tanya ma aku, semenjak kita nikah aku telah menjauh dari kehidupan Eno” aku berusaha menutupi kegrogian jawabanku dengan membaca sebendel proposal ditanganku.
“ Emmmmmm, gitu ya. Sudahlah gak usah dipikirkan aku hanya sekedar tanya aja. Kalau gitu aku tidur dulu ya” ucap Satria dengan batuk yang semakin menjadi – jadi.
            Aku merasa kasian sama Satria, kenapa orang sebaik dia meski aku bohongi terus. Mungkin dengan kejujuranku ia akan paham dan mengerti. Maafkan aku Satria jika aku begini.
            Hampir dua bulan aku bertemu dengan Eno. Meskipun kadang kita hanya memiliki kesempatan makan siang bersama tapi hatiku begitu damai. Aku rasakan perhatian Eno berbeda dengan Satria yang justru menjadi suamiku.  Aku mulai bimbang dengan perasaan ini? Sebenarnya hatiku untuk siapa?.....
Hari ini ketika aku makan siang dengan Eno, dan baru sebentar aku mulai mengobrol dengannya. Tiba – tiba HP ku berbunyi.......
“Beeeep......Beeeep.......Beeeep”......
“Assalamu’alaikum, bu.....”
“Wa’alaikumsalam.... Nduk kamu dimana, cepat susul ibu ke ICU RS Pelita Kasih, Satria tadi pingsan di kantor”
            Aku merasakan kejadian satu tahun yang lalu ketika bapak tiba – tiba di bawa ke RS.  Aku kaget, bukankah selama ini Satria sehat, hanya batuk yang ia keluhkan dan selalu dia bilang batuk biasa. Apakah ini ada kaitan dengan batuknya? Pikiranku melayang dan ketakutan hari itu akan datang mulai berseliweran di otak, aku takutt.....
Tanpa memikirkan apapun, aku diantar Eno segera meluncur ke RS, dan sesuatu telah terjadi pada Satria. Semua keluarga telah berkumpul, dan melihat kedatanganku dengan Eno.  Keluarga Satria memelukku dengan hangat, tanpa menanyakan kenapa aku datang dengan Eno. Segera aku masuk ruang ICU ditempat itu tergolek lemah Satria dengan berbagai selang tertempel di tangan dan badannya. Aku trenyuh melihat Satria, hatiku terasa teriris – iris, apakah rasa  ini cintaku padamu satria? Air mata mulai membanjiri kedua pipiku. Aku merasa tidak sanggup kehilangan orang terdekat untuk kedua kalinya. Aku menggengam jemari Satria yang lemah.
Dengan lemah dan kata – kata yang tidak jelas Satria mulai berkata padaku “Ra, maafkan aku jika selama ini aku menyakitimu, inilah jawabku atas semua pertanyaanmu, maafkan aku telah merebut cintamu untuk Eno, terimakasih kamu telah mengurusku selama ini. Kembalilah pada Eno, dia cinta sejatimu”.
Niiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt................................................................................. Satriaaaaaaaaaaa...........................................
dan sekali lagu ku lihat alat pemicu jantung itu bergaris lurus. Satria pergi selamanya. Air mataku turun tak terbendung lagi, maafkan aku Satria yang nggak jujur padamu selama ini. Semua keluarga memelukku seakan aku benar – benar istri yang baik buat Satria dimata mereka. Pemakaman Satria sungguh membuat hatiku hancur kembali, memoriku kembali teringat 1 tahun yang lalu dimana peti ayah diletakkan dan aku menikah dengan Satria, tapi kini peti Satria yang terletak di sini. Ke hadiran Eno dan keluarganya memberikan penyemangat bagiku untuk bangkit kembali.
            Setelah pemakaman selesai aku segera pergi ke kamar, di saat inilah aku merasa kangen yang amat sangat dengan Satria. Aku duduk di kursinya, membayangkan ia masih ada.
Ya Allah kenapa cintaku ini tumbuh justru ketika dia telah tiada..... semoga Kau kirimkan pengganti yang sebaik dia (Satria)..... Aminnn
Tanpa sengaja aku memperhatikan laptop biru, yang selalu setia menemani kesendirian Satria.  Seperti ada kekuatan dalam laptop itu, untuk menyuruh aku membukanya. Tanpa sengaja mata ini tertuju pada dokumen yang bertuliskan, untuk isteriku tercinta.....
Serasa jantung ini copot, benarkah Satria begitu mencintaiku hingga membuat note ini. Inikah cara dia menggunkapkan perasaannya. Dengan tetesan air mata mulai kubaca larik demi larik tulisan Satria.
            Teruntuk isteriku tercinta.............
            Sayang, mungkin aku bukan suami yang romantis dan pandai merangkai kata puitis untukmu.
Tapi  suatu saat aku yakin kamu akan membaca curahan isi hatiku ini dan mengerti.
Maafkanlah aku jika kata – kata ku ini tidak seromantis pujangga.
Istriku tercinta........
Bagiku kamu seperti bunga mawar yang indah, wangimu bisa aku rasakan akan tetapi untuk sekedar aku sentuh aku butuh waktu berpikir berapa kali.
Aku tidak mengginginkan mawarku rusak karena sentuhanku.
Aku beruntung bisa memandang keindahanmu, meski mungkin takdir jika aku tidak bisa menyentuhmu.
Bagiku kamu seperti bidadari yang Allah kirimkan untukku.
            Matamu bening mencarkan jiwamu yang bersih.
            Aku sungguh beruntung memilikimu.
Isteriku tercinta...........
            Aku tahu kamu bingung pada sikapku selama ini.
            Bukan karena aku tidak sayang padamu, bahkan semua ini kulakukan karena cintaku padamu.
            Siapa lelaki yang tidak tertarik pada isterinya.
            Aku ingin melaksanakan semua kewajibanku tapi semua ku ikhlaskan demi kamu.
            Aku nggak mau kesenangan sesaat tapi akan menjadi kesedihan sepanjang hidupmu.
            Yah virus “HIV” bersarang ditubuhku satu tahun ini.
Semua keluarga tidak ada yang mengetahui ini, karena aku pun mengetahuinya setelah seminggu kita menikah.
Dan aku harap kamu mengerti kenapa saat seminggu setelah haid kamu selesai aku tidak menyentuhmu.
Bukan karena aku nakal, tetapi virus itu aku peroleh saat aku transfusi darah.
Marah, sakit hati, menyesal berkecamuk dalam hatiku.
Tapi lambat laun pikiranku mulai terbuka, mungkin ini sudah takdirku.
Jika memang virus “HIV” ini merengut nyawaku, aku tidak akan menyesal meninggalkan mawarku masih suci.
Bukan aku tidak mau jujur padamu, tapi aku takut kehilangan mawarku.
Aku berharap kamu tidak menyesal menikah denganku.
Isteriku tercinta.......
Maafkan aku jika selama ini aku mengikutimu, bahkan sampai kamu bertemu Eno pun aku tahu.
Aku sangat bahagia melihat semangat hidupmu pulih setelah bertemu Eno.
Hidupmu mulai berwarna lagi setelah pertemuanmu dengan Eno.
Senyum yang aku rindukan, muncul kembali meski aku tahu itu bukan untukku.
Aku semakin tenang jika kelak meninggalkanmu, karena aku yakin Eno cinta sejatimu.
Isteriku tercinta.......
Aku tidak sakit hati ketika kamu membohongiku dengan sejuta alasan yang kamu berikan padaku.
Aku tidak sakit hati ketika kamu menerima telpon berjam – jam, meski kamu tak jujur padaku.
Aku tidak sakit hati ketika kamu pulang terlalu malam untuk seseorang yang berstatus isteri.
Aku tidak sakit hati ketika waktumu dirumah hanya sebentar saja.
Aku tidak sakit hati ketika kamu menyelinap malam – malam untuk bertemu Eno.
Aku tidak sakit hati akan semua hal  yang kamu lakukan padaku.
Isteriku tercinta..........
Berjanjilan padaku, nanti setelah aku tiada menikahlah dengan Eno, gapailah impian kalian berdua, aku akan lebih bahagia dan tenang jika kamu menikah dengan Eno.
Aku berharap ketika kamu membaca catatanku ini, berhentilah menangis, senyumlah......
Karena aku tidak ingin kamu menangisi kepergianku, tersenyumlah bidadariku.......
Tersenyumlah mawar suciku...........
Terimakasih atas kenangan bersamamu........
Suamimu yang selalu menggagumimu
Air mataku jatuh tak terbendung lagi membaca note, di laptop suamiku. Tak kusangka Satria yang cuek padaku ternyata dia sangat mencintaiku tidak seperti yang kubayangkan. Dan mataku terbuka lebar ketika mengetahui alasan Satria tidak menyentuhku, maafkan aku Satria, selama ini aku bukan isteri yan baik dan setia padamu. Kamu terlalu baik untukku, terimakasih kamu telah menjagaku.......
Selamat jalan Satria semoga kamu tenang disisiNya...............



Jogja,260911

0 komentar:

Posting Komentar

Menurut Kamu