Menjadi TKI bukanlah cita – citaku. Dulu aku bermimpi menjadi seorang dokter. Semenjak kecil setiap ditanya orang tuaku jawaban menjadi dokter tak pernah berubah. Tapi semua itu dulu, sekarang kenyataan yang aku hadapi adalah menjadi seorang TKI di salah satu perusahaan elektronik Korea. Kalaupun ada pilihan pekerjaan yang lebih baik di negeri sendiri aku akan memilihnya, tetapi tidak demikian keadaannya. Sebab itulah aku memilih membulatkan tekad semenjak lulus SMK, mendaftar menjadi TKI di Korea yang menurutku lebih baik dari pada negara tujuan TKI lainnya. Yah sudah 3 tahun aku berada di negeri orang, dengan berbagai macam cobaan yang aku hadapi. Susah dan senang menjadi makanan kami para TKI semuanya, tapi untuk keluarga apalah arti semuanya. Bagiku 3 tahun ini terasa lamaaaaa sekali, aku rindu ibuku dan keluargaku semua. Tidak sabar rasanya menunggu hari minggu untuk pulang ke Purbalingga kampungku, tiket sudah di tangan, tanggungan kontrak telah selesai. Sudah kubayangkan 2 hari kedepan keluarga akan menyambut kedatanganku. Senyum Ibu, bapak dan adikku telah kubayangkan.
“beeep, beeep, beeeep .....” Hp ku bergetar.
Terlihat di layar Hp andra adikku nelpon, tapi ada apa ya? Bukankah semalam aku baru menghubungi mereka. Ah semoga tidak ada apa2. Bismillah........
“ Assalamu’alaikum..... tumben ndra, dah kangennnn ya ma mbak !!” aku goda adikku sembari menghilangkan rasa cemas dihatiku.
Suara Andra sesenggukkan menangis menjawabnya “ Waaaa’alaikumsalam mbak........”.
“ Ndra, kamu kenapa menangis.... ada apa ndra !!! semakin keras suaraku mengharap bukan jawaban buruk keluar dar mulutnya.
“ Mbakkkk..... ibuuuuuu mbak!!” Andra tidak kuat untuk meneruskan kalimatnya, seperti tertahan di tenggorokan.
Dan pikiranku melayang membayangkan sesuatu buruk menimpa ibuku “ Iya, mbak dengar.... ada apa dengan ibu Ndra?”.
Dengan suara pelan andra mencoba mengatakannya “ mbak, tadi Ibu jatuh di kamar mandi... sekarang ibu koma di ICU, mbak mbak mbak umi ko diam ”.
Terdengar suara Andra memanggilku tapi lama – lami terdengar lirih. Dunia terasa berhenti berputar, badanku lemas tak berdaya bahkan mataku mulai berkunang – kunang dan Gelap kurasakan.
“ Umi.... bangun, kamu kenapa?” seluruh penghuni asrama mencoba menyadarkanku dari pingsan.
Air mata jatuh kedua pipi, aku menangis sejadi – jadinya di asrama. Semua bebanku terasa agak ringan setelah teman – teman menguatkanku untuk pasrah dan berdoa untuk kebaikan Ibu. Kali ini aku merasakan teman- temanku merupakan keluargaku paling dekat di perantauan dengan ikhlas mereka membantu mengirimkan doa buat kesembuhan Ibu. 3 hari terasa 3 tahun bagiku, aku tidak sabar untuk pulang menemui Ibuku.
Ya Allah, berikanlah kesembuhan bagiku.... jangan Kau ambil Ibu dari sisi hamba.... Hamba belum siap Ya Allah.... Masih banyak janji Hamba pada Ibu Ya Alaah.... Ingin hamba bahagiakan ibu, sebagaimana beliau merawat hamba waktu kecil. Kabulkanlah doa hamba Ya Rabb.... Aminnn
Hari ini terakhir aku di Korea tak sabar hati ini menemui Ibu meski beliau masih koma, hanya harapan sembuh yang selalu kupanjatkan pada Sang Pemilik Hidup. Aku yakin Ibu pasti tahu hari ini aku pulang. Setelah berpamitan dengan teman – teman semua, aku memasuki pesawat yang akan membawaku ke Indonesia. Tunggulah kedatanganku Ibuuuuuu...............
Setelah 7 jam pesawat mulai mendarat di Soeta Internasional Airport. Lega rasanya sudah sampai di Indonesia. Buru – buru ku pesan travel untuk membawaku ke Purbalingga. Tanpa mikir biaya langsung aku cater yang penting aku sampai rumah, dan bisa langsung ke rumah sakit menemui ibu.
Ibuuuu... semoga dengan kedatanganku Ibu sembuh...
Dalam perjalanan aku hanya memikirkan Ibu. Sengaja aku tidak menelpon keluargaku kalau aku sudah menuju ke Purbalingga, biarkan mereka tenang dan fokus menggurus Ibu di rumah sakit. Yang mereka tahu aku sudah sampai Indonesia. Aku ingin cepat sampai sana, tersa travel yang membawaku lambat sekali.
Setelah 8 jam perjalanan ku tempuh sampailah aku di depan rumah. Sebelumnya tadi aku mampir florist untuk membelikan buke Mawar Putih, ya Ibu sangat menyukai mawar putih bahkan menanam di pekarangan rumah. Semoga nanti Ibu bahagia meski aku tahu Ibu masih koma, tapi beliau bisa mencium wangi mawar ini. Seperti hatinya putih bersih dan selalu menebar kebaikan buat semua keluarga. Aku segera turun dari mobil travel, sebelum kakiku menginjakkan tanah, terlihat ramai sekali rumahku. Apakah sebesar ini sambutan yang keluargaku buat. Ah aku hanya ingin secepatnya bertemu Ibu di ICU.
Kejutan apa yang dipersiapkan keluargaku ya......
Dari kejauhan Andra menghampiriku, belum sempat aku berkata – kata tapi tiba – tiba Andra memelukku....
“ Mbak.... Ikhlaskan Ibu, beliau telah tenang di sisi Allah SWT, sabar yaa mbak, Ibu pergi setelah mbak datang... Andra yakin Ibu menunggu kedatangan Mbak”.
“ Innalillahiwainailahi ro’jiun”. Gelap duniaku, tak ada penerang bahkan api jiwaku langsung padam.
Ya Allah... Secepat inikah Kau panggil Ibu
Ya Allah.... Aku ikhlas semoga ini terbaik buat Ibu
Ya Allah.... Tempatkan beliau ditempat yang terindah di sisiMu
Dan berikan kesabaran untuk keluarga kami..... Aminnn
Di depan gundukan tanah yang masih basah ini ku letakkan buke Mawar Putih untukmu Ibu..... Semoga kau tenang disisiNya. Ibu meski ragamu tak berada disamping kami lagi, tapi jiwamu ada dijiwa kita.... Selamat jalan Ibu...... kami semua sayang Ibu......
I Love My mom......
Jogja, 230911


2 komentar:
Salam alaikum, maaf baru sempet main ke sini,.,
btw, cerpennya sedih banget, Mbak.. ;_|
Wa'alaikumsalam...... makasih dah mau mampir, hemmmm lagi pengin nulis sedih hehehehe
Posting Komentar
Menurut Kamu