Sebuah nama adalah doa, seperti itulah harapan simbok memberi nama ''Bejo Satrio'' padaku. Kata simbok, supaya dalam perjalanan hidupku selalu menjadi kesatria yang selalu dinaungi keberuntungan. Kini 1 tahun sudah aku menuntut ilmu disalah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Pelan tapi pasti keberuntungan menyapaku silih berganti. Diawali dari mendapatkan beasiswa kuliah gratis, sampai kos pun mendapat tumpangan dirumah teman sekelas.
Hari ini aku berencana pulang kampung, seperti tradisi tiap minggu menyempatkan menjenguk simbok. Ada yang berbeda minggu ini, keinginan untuk pulang sangat menggebu. Mungkin karena kangen banget ma simbok, terutama sayur bobornya itu. Dengan langkah ringan, mulai kukayuh sepeda unta menuju desa dikaki Gunung Merapi. Rasa lelah mengayuh sepedaku tak kuhiraukan, aku hanya ingin cepat sampai rumah dan memeluk simbok.
1,5 jam kukayuh sepeda, sampai akhirnya dari kejauhan telah tampak rumah sederhanaku. Terbayang senyum simbok menyambutku, tapiiiiii kenapa banyak orang berkerumun didepan rumah. Segera bayangan senyum simbok sirna, hanya rasa bingung dan penasaran yang memenuhi hatiku. Segera aku turun dari sepeda dan bergegas lari kedalam rumah. Semua orang yang kulewati hanya diam membisu tanpa keluar sepatah katapun dari mereka. Hanya tatapan nanar yang sangat jelas kulihat.
Badanku limbung ketika aku melihat sosok simbok yang terbaring ditempat tidur dengan senyumnya, tapi bukan senyum seperti biasanya. Kini tubuhnya telah kaku dan wajahnya pucat pasi. Aku memelukmu simbok, tapi sudah tak kurasakan balik peluk hangatmu lagi. ''Inna lillahi wa inna ilahi roji'un'' semoga kau tenang disisiNya.
Simbok Tunggulah aku disurgaNya.
**jika ada kesamaan nama dan peristiwa mohon maaf :) jogja,010711
Hari ini aku berencana pulang kampung, seperti tradisi tiap minggu menyempatkan menjenguk simbok. Ada yang berbeda minggu ini, keinginan untuk pulang sangat menggebu. Mungkin karena kangen banget ma simbok, terutama sayur bobornya itu. Dengan langkah ringan, mulai kukayuh sepeda unta menuju desa dikaki Gunung Merapi. Rasa lelah mengayuh sepedaku tak kuhiraukan, aku hanya ingin cepat sampai rumah dan memeluk simbok.
1,5 jam kukayuh sepeda, sampai akhirnya dari kejauhan telah tampak rumah sederhanaku. Terbayang senyum simbok menyambutku, tapiiiiii kenapa banyak orang berkerumun didepan rumah. Segera bayangan senyum simbok sirna, hanya rasa bingung dan penasaran yang memenuhi hatiku. Segera aku turun dari sepeda dan bergegas lari kedalam rumah. Semua orang yang kulewati hanya diam membisu tanpa keluar sepatah katapun dari mereka. Hanya tatapan nanar yang sangat jelas kulihat.
Badanku limbung ketika aku melihat sosok simbok yang terbaring ditempat tidur dengan senyumnya, tapi bukan senyum seperti biasanya. Kini tubuhnya telah kaku dan wajahnya pucat pasi. Aku memelukmu simbok, tapi sudah tak kurasakan balik peluk hangatmu lagi. ''Inna lillahi wa inna ilahi roji'un'' semoga kau tenang disisiNya.
Simbok Tunggulah aku disurgaNya.
**jika ada kesamaan nama dan peristiwa mohon maaf :) jogja,010711


0 komentar:
Posting Komentar
Menurut Kamu