Kamis, 29 September 2011

Cintaku Terhalang PNS


Siapa yang tak senang, jika hari wisuda tinggal menghitung hari.  Setelah ± 5 bulan mengotak – atik data, akhirnya hari ini telah kuserahkan 6 bendel skripsi yang telah di setujui dosen pembimbing. Lega rasanya, telah mendaftar untuk wisuda. Telah dapat kubayangkan senyum ke dua orang tuaku, apalagi  kalau besok orang tuaku melihat aku duduk di kursi paling depan. Yah karena aku termasuk salah satu mahasiswa cumloude, dengan IPK 3,91.  Perjuanganku mengerjakan skripsi ini bukan hanya karena dukungan orang tua, tetapi ada seseorang yang selalu setia mengantarkan ketika harus keluar masuk desa yang cukup jauh dari kampus, bahkan luar kota yang harus kami jelajahi. Dengan sukarela dia membantuku saat menganalisis data sampai akhirnya skripsiku jadi. Dialah  Rakha Putra Perdana, sosok humoris, mandiri, dan selalu ringan tangan membantu teman yang kesusahan. Meskipun aku tahu ditengah rutinitasnya sebagai pemilik restoran di dekat kampus, tetapi Rakha selalu menyempatkan diri untuk aku.
                Usia Rakha tidak jauh berbeda denganku, aku hanya lebih muda 2 tahun darinya. Akan tetapi kemandirian Rakha sungguh memikatku. Dari keluarga sederhana Rakha berusaha menghidupi dirinya dan menyekolahkan ke dua adiknya. Meski Rakha tidak sempat mengicipi bangku kuliah tapi dia bertekat membantu adiknya sampai kuliah. Itulah sosok Rakha yang telah membuaiku, meski banyak tawaran dari pangeran – pangeran tampan di kampus tapi hatiku telah terpikat akan dia. Orang tuaku tidak mengetahui hubunganku dan Rakha, esok waktu wisuda aku berencana mengenalkannya. Telah ku bayangkan pasti orang tuaku akan menerima calon pendamping hidupku ini.
“Hemmmm, bukankah dulu ayahku selalu bilang dari kalangan manapun dia asal baik dan bertanggung jawab”.
                Tiba – tiba terdengar ringtone Hpku berbunyi. Terlihat dari layar Hp tertulis nama ayah.
“ Assalamu’alaikum......” sapaku.
“ Wa’alaikum salam...... gimana net, dah kau packing barangmu? Minggu depan ayah kesitu bawa mobil 2, sekalian untuk ngangkut barang – barangmu” ucap ayah.
“ 2 mobil? Buat angkut barang – baranku yah? Lhohhhhhh aku kan nggak langsung pulang Lampung yah!!..... aku pengin carai kerja di jakarta yah” rengekanku pada ayah.
Suara ayahku terdenger sangat lantang “ Nggak!!! Habis lulus, urusanmu di kampus selesai, kamu pulang ke Lampung..... Cari kerja di sini, daftar PNS, nikah dengan PNS!!!”.
                Mendengar kata – kata ayah, seperti tersambar petir di siang bolong, tak ada mendung tak ada hujan tiba – tiba keputusan satu pihak yang ku terima, tanpa mendengar pendapatku dulu.
“ Tapiiii yah, bukankah rejeki, jodoh dan maut itu telah di atur oleh Yang Maha Kuasa...... kan belum tentu jika aku balik ke Lampung bisa jadi PNS?” kataku pada ayah. Dan aku masih tidak habis pikir dengan keputusan ayah ini.
Apakah ini saat yang tepat aku utarakan, bahwa aku memiliki hubungan yang sangat serius dengan Rakha. Harus berani aku bilang!! Aku rasa tak ada waktu lagi, apapun reaksi ayah akan kuterima.
Tetap dengan suara keras ayah memintaku pulang ke Lampung “ Tidak pakai tapi – tapi !!! inget net ayah sekolahkan kamu tinggi supaya kamu mendapatkan pekerjaan yang layak seperti ayah. Biar ayah dan ibu sudah pensiun tetap bisa menikmati gaji pensiun. Waktu ayah kini hanya untuk mengurus perkebunan, tapi ayah tetap memiliki gaji rutin tiap bulan.”
Dengan suara pelan, dan berharap hati ayah akan luruh “ Yah, selain Netra pengin kerja di Jakarta... Netra memiliki teman dekat yaitu Rakha, dia serius dengan Netra. Meski dia bukan PNS Netra yakin akan hidup bahagia dengannya, bukankah ayah pernah bilang siapapun pendamping hidup Netra yang penting dia baik dan bertanggung jawab?”.
Tetapi Ayahku tetap berketetapan keras, bahkan siapa sih yang berani melawannya, kakak ku pun nggak berani. Bahkan semua kakakku dijodohkan, memang kehidupan mereka bahagia, tapi apakah aku juga akan bahagia seperti mereka? Sedangkan aku terlanjur cinta pada Rakha.
“ Ngakk ada Rakha, emang kamu pikir hidup berkeluarga cukup dengan cinta, kamu yakin bahagia. Ayah nggak setuju. Ayah sudah memiliki calon untukmu, Aditya Kurniawan, seorang PNS Pemda di Lampung, anak teman ayah. Ayah yakin dia akan bertanggung jawab padamu, lupakan impianmu pada Rakha. Sudahlah yang penting kamu packing barangmu, dan segera pulang ke Lampung. Assalamu’alaikum”.
“Klik...... Wa’alaikumsalam” ayah menutup telpon tanpa menunggu penjelasanku. Sekarang tinggal aku berada di persilangan jalan. Haruskah aku melawan orang tuaku? Terlalu rumit masalah ini.
Sudah 4 hari aku berpikir tentang masalah ini, dan aku berusaha memberi alasan setiap Rakha mengajak bertemu, sms tak kubalas, bahkan telpon tak kuangkat.Aku ingin lambat laun Rakha membenciku dan gampang untuk melupakanku. Sudah saatnya aku harus ngomong pada Rakha, semoga dia mengerti akan posisiku. Sakit hati itu pasti Rakha rasakan, dan ini pula yang kurasakan saat ini.
Di sebuah keramaian sengaja aku pilih untuk memberi tahu masalah dan akhir dari keputusanku pada Rakha. Grand Indonesia aku pilih, setelah menggambil tempat duduk di salah satu restoran aku mulai pembicaraan.
“Sebelumnya aku minta maaf padamu kha, sudah 4 hari ini aku berusaha menghilang dari kehidupanmu” ucapku lirih dengan mata berkaca – kaca menahan tanggis.
Dengan muka binggung Rakha mencoba menenangkanku “ kamu kenapa Net, ceritalah!! Aku binggung dengan sikapmu beberapa hari ini”.
Dengan menghela nafas ku ceritakan semua masalahku pada Rakha. Dan di luar dugaanku Rakha diam tanpa keluar sepatah kata sedikit pun.
“Rakha, maafkan aku...... aku baru tahu semua ini 4 hari yang lalu ketika ayahku menelponku” rintik air mata mulai membasahi pipiku.
Rakha tetap diam tak bergeming, seolah dia sedang memikirkan sesuatu.
“ Dan, kamu mau menerima itu kan net? Jahat sekali kamu,tanpa kau pertanyakan sama aku, bagaimana perasaanku? kalau ini yang kamu inginkan baiklah, kita putus anggap kita tidak punya kenangan apapun, anggap aku mimpi burukmu Net” Rakha berdiri dan meninggalkanku dalam kehancuran hatiku.
Aku pulang ke kos dengan naik taksi dan dalam kamar aku menanggis sejadi – jadinya, bahkan mungkin besok mataku akan bengkak tak kuhiraukan. Tak kupedulikan esok orang tuaku akan datang, tak ku hiraukan besok acara wisudaku. Hanya Rakha yang ada dalam pikiranku, bisakah dia bisa menerima ini. Aku bisa merasakan hatinya yang sakit begitupun hatiku. Terlalu naifkah diriku? Di sisi lain hatiku tak bisa mengelak dari permintaan ayahku.
Dan hari  wisudapun tiba, make up ini yang bisa menyamarkan bengkak di mataku. Ya Allah kuatkan hatiku ini, biarkan hatiku sakit asal kedua orang tuaku bahagia. Penghargaan yang ku terima ini pun tak menjadikanku bangga, meski kedua orang tuaku nampak bangga ketika nama ku di panggil ke podium. Jika aku bisa terbang aku sudah terbang menghilang tak terlihat lagi. Inggin rasanya seperti merpati terbang bebas diangkasa semaunya.
Acara wisudapun usai, banyak teman – teman memberiku selamat. Tetapi tak kusangka dari kejauhan Rakha terlihat membawa setangkai mawar merah. Aku berharap mawar itu jatuh ke tanganku sebagai tanda sayangnya padaku, tetapi.......... Rakha bebelok dan  memberikan mawar itu kapada sepupunya yang di wisuda bebarengan dengan wisudaku. Hanya senyum yang Rakha tujukan padaku, tanpa memberi selamat. Meski hanya senyum itu sedikit mengobati lukaku.
Semenjak kejadian itu hubunganku dengan Rakha kian menjauh. Aku mencoba menghubunginya, akan tetapi Rakha tak mau menjawab teleponku, apalagi membalas smsku. Aku sadar ini terlalu sakit buatnya, tapi tidak sadarkah dia dengan sikapnya seperti ini aku akan lebih sakit hati. Tepat seminggu setelah wisuda aku akan pulang ke Lampung, memenuhi keingginan orang tuaku. Dengan langkah yang sedikit takut, kuberanikan diri menemui Rakha di Restorannya.
“ Rakha, terimalah ini dariku.... aku nggak berharap kamu mengenangku sebagai kekasihmu, kamu hapus dari kenanganmu aku pun rela. Maafkan aku tak bisa menjaga cintamu” ku sodorkan skripsiku pada Rakha. Aku berharap Rakha mengerti membacanya, karena di skripsi itulah ku rangkai kata khusus untuk dia.
Tanpa banyak kata Rakha hanya mengucapkan terimakasih padaku.
Taksi yang membawaku ke bandara meluncur meninggalkan restoran Rakha. Dari kejauhan aku lihat  Rakha menanatap taksi yang kutumpangi. Lambat laun sosok Rakha hilang dari pandanganku, meski kenangan bersamanya akan kubawa sampai akhir hidupku.  Tak terasa taksi yang kutumpangi telah sampai bandara, segera aku menuju pesawat yang akan membawaku ke Lampung untuk menemui seorang PNS. 
Selamat tinggal jakarta.....
Selamat tinggal cintaku......
Maafkan aku, ternyata  cinta kita terhalang PNS........

Jogja, 270911
*terinspirasi kisah teman.

0 komentar:

Posting Komentar

Menurut Kamu